blesscar.co.id –

KUALA LUMPUR – Pemerintah Malaysia mengeluarkan stimulus ekonomi yang di dalamnya memberikan kelonggaran pajak hingga 100% alias hapus pajak penjualan mobil baru.

Kebijakan ini terdapat dalam program Pelan Jana Semula Ekonomi Negara (PENJANA) yang disampaikan oleh Perdana Menteri Malaysia, Tan Sri Muhyiddin Yassin. Dengan kebijakan ini pihaknya berharap dapat mengembalikan perekonomian Malaysia setelah pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Dalam program Penjana disebutkan bahwa akan ada pelonggaran untuk pembelian kendaraan baru. Termasuk peniadaan pajak kendaraan hingga 100% untuk kendaraan CKD dan 50% untuk mobil CBU dari tanggal 15 Juni hingga 31 Desember 2020.

“Pemerintah telah sepakat untuk membebaskan pajak penjualan hingga 100% untuk kendaraan penumpang diproduksi lokal dan 50% yang diimpor secara utuh (CBU) mulai 15 Juni hingga 31 Desember 2020,” ungkapnya.

Kebijakan tersebut tentunya akan mengurangi harga jual kendaraan namun memang nilainya tidak signifikan. Ini karena pengecualian hanya berlaku untuk pajak penjualan kendaraan yang besarnya sebesar sekitar 10% dari kendaraan penumpang. Sementara bea impor dan cukai tetap dikenakan.

Meski demikian, Datuk Aishah Ahmad, President of Malaysian Automotive Association optimis kebijakan tersebut  merupakan angin segar. Karena kebijakan ini dapat mengurangi biaya dan mengurangi harga jual kendaraan ketika digabungkan dengan beragam promo penawaran dan diskon dari dealer.

“Tapi, kami harus berhati-hati terhadap pasar dan akan tetap menargetkan 400.000 kendaraan dibandingkan perkiraan awal yang sebesar 620.000 unit kendaraan. Bank juga kini memperketat penerimaan kredit kendaraan. Kami akan memantau tren penjualan dari waktu ke waktu,” ungkapnya.”

Pada bulan April 2020, penjualan kendaraan di Malaysia hanya mencapai 141 kendaraan. Jumlah tersebut turun drastis bila dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu dengan capaian 49.935 unit.

Nasib Serupa Dialami Indonesia

Penurunan penjualan kendaraan tersebut pun serupa dengan di Indonesia yang mengalami penurunan drastis. Sebelum adanya pandemi, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) pejualan kendaraan di Indonesia ditargetkan bisa mencapai 1,050 juta unit. Namun setelah terjadi pandemi, target pun direvisi menjadi hanya 600.000 unit kendaraan.

Jumlah tersebut pun bukan tidak mungkin meleset karena pandemi Covid-19 di Indonesia masih jauh dari kata selesai. Masyarakat pun terlihat masih enggan untuk membeli kendaraan meski sejumlah brand meningkatkan program penjualan online.

“Melihat hasil April dan Mei yang sedang berjalan, terus terang ada sedikit perasaan was-was di hati saya karena kemungkinan target 600 ribu akan sangat berat sekali,” ucap Yohannes Nangoi, Ketua Umum Gaikindo beberapa waktu lalu.

Pandemi Covid-19 pertama kali diumumkan pada awal Maret 2020. Ketika itu, perekonomian nasional langsung terganggu dan ini merembet ke industri otomotif. Penjualan mobil juga langsung turun, khususnya pada April. Transaksi jual – beli retail turun hingga 59% jika dibandingkan dengan Maret, sementara volume wholesales turun hingga 89%.

Total, penjualan retail pada Januari – April berjumlah 243.600-an unit, turun 28,5% dibanding periode yang sama pada 2019. [Adi/Ari]

Mobil123